I made this widget at MyFlashFetish.com.

W E L C O M E

welcome to my fun parade
welcome to my fun world
welcome to my life
enjoy it

let's play !

let's play !
have to be happy

Rabu, 28 April 2010

dia

Sore itu, aku berencana mengunjungi suatu tempat. Tempat dimana segala kebahagiaanku dapat tertuang. Tempat dimana semua duka dan sukaku dapat tercurah. Ya, jembatan penyeberangan Arwana. Di tempat itulah aku akan berusaha mengenang semua yang telah terjadi.
Tepat 2 tahun yang lalu, aku mendapat satu surat dari seseorang yang sangat tak kupercayai akan mengenalku lebih jauh, yang tak kupercaya akan menjadi seseorang yang kemudian menjadi teman hidup yang sangat baik. Dio Aleko. Itulah nama kapten tim basket sekolahku yang juga kakak kelasku yang memberikan surat yang menurutku surat itu adalah surat cinta. Aku masih menyimpan surat itu di kotak kenangan masa SMA yang kuberi nama ”a billion memories of SHS”. Inilah isi surat tersebut.

Nadira,
Aku tunggu kamu di jembatan penyeberangan Arwana jam 5 sore. Sesuatu yang takkan pernah kamu lupakan seumur hidupmu akan terjadi malam ini.
Dio Aleko

Dan sore itu pula aku akan membawa serta surat itu ke jembatan Arwana.
Aku merasakan hembusan angin yang lembut membelai rambutku, serasa memanjakanku. Aku terus memandang lalu lintas di bawahku yang tak terlalu padat. Sama seperti waktu itu.
Ketika sore itu aku tiba di jembatan Arwana, Kak Dio telah menantiku. Senyum hangatnya menyambut kedatanganku. Senyum yang tak akan dapat kulupakan. Aku pun mendekatinya dan bertanya, ”Udah lama nunggu ya, Kak?”. Ia pun menjawab dengan suara lembutnya, ”Oh, nggak juga. Baru 10 menit.”. Lalu aku merasa bersalah, ”Maafkan aku, Kak. Aku harus nunggu sepedaku selesai diperbaiki.”. Kak Dio kembali tersenyum dan berkata, ”Sudahlah, nggak perlu diperpanjang.”. Aku terdiam. Demikian juga dengan Kak Dio. Tanpa pikir panjang, aku memecah keheningan dengan bertanya padanya, ”Kak, kalo boleh tahu, sebenarnya apa yang akan kita lakukan disini? Dan kenapa kakak mengundangku untuk datang kemari?”. Kak Dio menatapku dan menjawab, ”Hhh.. Oke, aku nggak mau basa-basi. Aku ingin memberikan satu tanda untukmu.”. Ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah kotak berwarna ungu. Ia memberikannya padaku dan menyuruhku untuk membukanya. ”Kamu mungkin heran kenapa aku meberimu kotak yang isinya hanya sebuah benda berbentuk bulan sabit ini, bukan?” katanya. ”Iya, Kak.” jawabku lugu. Tapi aku masih bingung. ”Kamu keberatan nggak kalo kita disini sampai malam nanti?” tanyanya. ”Oh, nggak apa kok, Kak. Kebetulan aku sendirian di rumah.” jawabku.
Malam pun tiba. Kak Dio menyuruhku mebuka kotak itu. Ajaib. Bulan sabit itu bercahaya. Aku tercengang melihatnya. Dan saat itu pula kak Dio mengutarakan isi hatinya padaku. ”Aku ingin menjadi bagian dari hidupmu. Aku ingin temani hidup kamu dengan semua kebahagiaanku. Maukah kamu menerimaku dengan segala kekuranganku?” tanyanya. Aku masih terlarut dalam kebahagiaanku dan aku hanya dapat menganggukkan kepalaku. Dan mulai saat itu, kami menjadi sepasang kekasih yang selalu diselimuti kebahagiaan setiap hari.
Satu tahun berlalu. Pagi itu kami berjanji akan bertemu di tempat dimana kami biasa bertemu untuk merayakan satu tahun hari jadi kami. Jembatan Arwana. Akan tetapi, kami akan bertemu sore hari karena pagi itu Dio hendak berlatih basket bersama timnya.
Jam 4 sore aku telah sampai di tempat itu. Dengan sabar aku menanti kehadiran sang pangeranku. Lima belas menit berlalu. Dio belum tampak batang hidungnya. Tetapi aku masih dengan sabar menunggunya, karena aku tahu aku sungguh mencintainya. Tiga puluh menit sudah terlewat. Tetapi Dio tak juga datang. Beberapa kali aku mencoba menghubunginya, mengirimnya pesan. Kembali nihil. Tak ada jawaban. Hingga empat puluh lima menit tiba, saat itulah Dio menjawab pesanku.

Sayang,
Maafin aku. Aku agak telat soalnya jam latihan ditambah & aku kejebak macet di jalan Asia.
Tunggu aku. Aku segera datang untukmu..

Aku sedikit lega telah menerima jawaban pesan darinya. Akan tetapi sepintas firasat tak begitu baik melintas di benakku. Tetapi aku mencoba segera melupakannya ketika kulihat sesosok lelaki dengan kaos tim basket bertuliskan ”evil colonies of Tunggal Jaya SHS” mengendarai sepeda sportnya sambil melambaikan tangan kanannya ke arah dimana aku berada. Senyum manisnya pun turut menghiasi wajahnya yang terlihat sangat lelah. Ketika ia hendak melintas di suatu persimpangan, ia tak menyadari bahwa lampu merah lah yang tengah menyala. Tiba-tiba,,,...
Aku hanya terdiam. Tak satupun kata terucap dari mulutku ketika melihat apa yang baru saja terjadi di depan pandanganku. Kemudian aku berlari menuruni anak tangga jembatan dan terus berlari ke tempat dimana Dio tergeletak. Aku meraih tubuhnya yang berlumur darah. Memangkunya, dan menangisinya. Aku mencium dahinya. Sejenak ia tersadar dan mengucapkan sepatah kata, ”Aku mencintaimu. Sungguh mencintaimu. Terimakasih, Sayang. Kamu telah memberiku semangat padaku. Membuat hidupku lebih bermakna dan berwarna. Maafkan aku yang tak sempat membahagiakanmu. Suatu saat nanti kita akan bertemu di lain tempat. Jauh dari dunia ini. Kita akan hidup bahagia bersama Sang Kuasa. Jangan menangis, Sayang. Tersenyumlah selalu untukku. Aku hanya akan pergi untuk sementara. Aku pasti akan kembali untukmu.” Aku hanya mengangguk dan air mataku terus mengalir semakin deras. Untuk terakhir kalinya, Dio pun mencium dahiku. Aku pun mengatakan sesuatu padanya, ”Aku mencintaimu lebih dari yang kamu tahu. Aku begitu bahagia bersamamu. Jangan pernah tinggalin aku.” Dan kalimat terakhir yang terucap darinya adalah, ”Aku bersumpah, dan aku akan membuktikan bahwa aku tak akan meninggalkanmu. Aku akan selalu ada disisimu, Nadira Febrilia.”
Kini, Dio mungkin telah bahagia di dunianya. Kemudian di hari ini yang juga seharusnya bertepatan dengan dua tahun hari jadi kami, aku tersadar dan ingat akan kata-kata Dio kala kami sedang merayakan lima bulan hari jadi kami bahwa aku tak boleh terlarut dalam kesedihan terus menerus.
Terimakasih Dio. Berbahagialah kau disana. Semoga kau mendapatkan tempat yang layak untuk kehidupanmu selanjutnya...



-edited from a school magazine i've ever read-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar