Casts :
- Kim Yoo Gi
- Kim Jae Joong
- Another casts will be added if they’re needed =D
--~~~--
“Yoo Gi-ah! Yoo Gi-ah! Cepatlah keluar!”
“Aku sakit perut, oppa. Tunggulah! Aduuuhh!” teriakku dari dalam kamar mandi.
“Ya! Kau ini, cepatlah! Aku punya kabar gembira! Ppali ppali!” Jaejoong oppa masih saja meneriakiku dari luar.
Kabar gembira? Aish~ apa gerangan itu? Aku memang penasaran. Tapi rasa penasaranku benar-benar kalah jauh dengan rasa kebeletku :s
“Ne, tunggu saja, oppa! Bersabarlah!”
10 menit kemudian aku keluar dari kamar mandi dan...
“Yoo Gi-ah! Lihatlah ini!” Jae-oppa langsung menarik tanganku dan memperlihatkan apa yang sedang terpampang di iPadnya.
“MWO????!!! JINJJAAA?!?!?!?” aku syok sejenak, mati rasa.
“Yoo Gi-ah! Ini kenyataan!!! CHUKKAE, SAENG!!” oppa langsung memelukku girang.
“Oppa! Aku masih tidak percaya! Ani! Ne! Aku percaya sekarang. Ok. Aku akan ganti baju lalu kita harus merayakan ini, oppa!” aku melepas pelukannya dan langsung lari ke dressroom sampai aku tak melihat ternyata ada tumpahan susu di lantai yang membuatku terpeleset. Aku berteriak sebentar lalu segera bangkit dan melanjutkan perjalananku menuju dressroom (?)
Ya. Kabar gembira tadi adalah aku diterima di SMA favorit di kotaku. Betapa tidak? Untuk masuk menjadi siswa di sana bukan suatu hal yang mudah. Bayangkan saja, soal ujian masuk yang tempo hari aku kerjakan tarafnya sudah seperti taraf olimpiade tingkat nasional. Beruntung sehari sebelumnya aku lembur mencari mengumpulkan dan mengerjakan soal-soal yang kudapat dari berbagai situs di internet. Oh iya. Namaku Kim Yoo Gi. Aku adalah anak kedua dari dua bersaudara. Jadi, bisa disimpulkan bahwa aku adalah anak terakhir. Aku punya seorang kakak laki-laki, Kim Jaejoong. Jarak usia kami cukup jauh. Usiaku sekarang masih 14 tahun sedangkan Jaejoong oppa sudah 22 tahun. Oppa baru saja lulus dari Universitas Tokyo dan sekarang sudah bekerja di perusahaan terbesar di Korea. Oppa sangat jenius. Dulu waktu ia baru duduk di semester 3 sudah ada 3 perusahaan besar yang menawarinya pekerjaan. IQnya juga tergolong tinggi. Dari kecil aku sudah tinggal bersamanya. 4 tahun yang lalu aku ikut oppa pindah ke Jepang karena oppa harus kuliah di Tokyo. Waktu itu aku baru mau masuk SMP. Dua bulan yang lalu setelah aku dinyatakan lulus dari SMP, aku dan Jaejoong oppa kembali lagi ke Korea karena oppa rindu dengan semua yang ada di sini. Aku sih ikut saja. Jelas sekali. Kalau tidak ikut dengan oppa, aku akan tinggal dimana dan dengan siapa? Bukankah aku ini anak kecil? Emm... Kalian pasti bertanya dimana orangtua kami? Hmm entahlah. Aku sendiri tidak terlalu memikirkan mereka. Karena aku pikir mereka juga tidak terlalu memikirkanku. Aku lebih nyaman hidup seperti ini bersama Jaejoong oppa. Mungkin karena dari kecil aku sudah tinggal bersamanya. Bahkan aku tak tahu dimana orangtuaku tinggal sekarang. Oppa lah yang tahu. Tapi aku benar-benar tidak ingin tahu. Aku juga tak tahu kenapa aku sebegini tidak pedulinya dengan orangtuaku. Mereka tidak pernah sama sekali menghubungiku, namun sesekali menanyakan kabarku kepada oppa. Yah, mereka masih sering mengontak Jaejoong oppa. Menanyakan kabar rumah, keuangan oppa, dan (kalau tidak lupa) kabarku. Aku dan Jaejoong oppa tinggal di apartemen yang cukup mewah peninggalan orangtua kami. Ah sudahlah. Yang penting aku sudah cukup bahagia hidup bersama Jaejoong oppa yang sangat menyayangiku.
“Oppa, aku sudah siap. Kajja!”
“Ne, kajja!” Oppa merangkulku. Kami menaiki mobil oppa yang rupanya sudah siap di depan apartemen.
“Oppa, kau tidak memberiku hadiah?”
“Mwo? Hadiah apa?”
“Aish~ oppa! Hadiah karena aku diterima di sekolah itu,” bibirku maju lima senti.
“Ya ya! Jangan manyun begitu. Ne, kau ingin oppa beri apa?”
“Hmm.. tidak mahal dan tidak sulit kok. Aku hanya ingin kalau aku sudah mulai masuk sekolah nanti kau mengizinkanku untuk berangkat sendiri naik bus kota atau kereta bawah tanah. Seperti anak-anak sekolah normal lainnya.”
“Ya! Kalau itu aku tidak bisa, saeng,” jawab oppa mengalihkan pandangannya ke jalan dan sibuk menyetir.
“Wae? Kenapa oppa? Aku ini kan sudah bukan anak kecil lagi. Oppa, kapan kau akan membiarkanku tumbuh bebas? Apakah tidak cukup selama ini aku sudah selalu patuh padamu walaupun aku selalu jadi bahan ejekan chingudeulku di sekolah? Oppa, aku sudah SMA. Percayalah aku akan bisa menjaga diriku sendiri. Kau juga tahu kalau akau bukan anak yang penakut dan cengeng. Jebal oppa,’ rengekku menarik-narik lengan bajunya.
Oppa mendesah pelan. Memang. Selama ini aku selalu pergi dan pulang sekolah bersama oppa. Aku tahu oppamemang khawatir. Tapi aku juga ingin sesekali merasakan kebebasan.
“Ya! Oppa, what if we make a deal?”
“What’s that?”
“Aku akan mencobanya satu bulan pertama. Kau boleh mengantarku sampai halte atau stasiun bawah tanah. Pulangnya aku akan menghubungimu ketika aku sampai di halte atau stasiun. Kau kan tetap bisa menjemputku. Setelah kau percaya bahwa aku bisa, kau bisa mempertimbangkannya lagi. Bagaimana?”
“hmm”
“jebal oppa, yang ikhlas dong!”
“NE!” oppa berteriak tepat di telingaku yang membuatku spontan menutupnya.
Tiba-tiba..............
“Aaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrggggggggggggggghhhhhhhhhhhhhhh...............!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
Jaejoong oppa segera menepikan mobil dan kami berdua turun menghampiri namja yang hampir kami tabrak tadi.
“Ya! Kau tidak apa-apa?” tanya oppa padanya.
“Ne, gwenchanayo,” namja itu langsung berlari dan menghilang.
Aneh sekali namja itu. Padahal kami ingin menolongnya. Dan sepertinya... ah tidak tidak. Aku menatap Jaejoong oppa yang ternyata sedari tadi masih memandangi namja itu. Pandangannya benar-benar tajam dan matanya mengikuti arah namja itu berlari hingga namja itu menghilang, aku pikir sepertinya ia mengenal namja itu.
“Oppa? Oppa?”
Jaejoong oppa tidak menjawab. Pandangannya masih saja tertuju ke arah namja itu menghilang.
“Ya! Oppa!” aku sedikit mengagetkannya.
“Eh? Wae?” sontak oppa kaget.
“Oppa mengenal namja itu?” tanyaku penasaran.
“Ah ani ani. Kajja kita lanjutkan perjalanan saja,” perintah oppa sambil merangkulku kembali naik mobil.
Oppa menyalakan mesin mobil. Ia kembali termenung.
“Oppa? Wae? Kau sakit?”
“Aniya...”
“Kalau oppa sakit, kita pulang saja oppa. Mungkin kau kelelahan setelah semalam kerja lembur.”
“Kau tidak apa-apa kalau kita pulang? Lalu bagaimana dengan...”
“Ya, oppa. Kesehatanmu lebih penting. Gwenchanayo. Kita pulang saja.” Aku tersenyum padanya.
“Arrasseo. Bagaimana kalau kita makan dulu?”
“Tidak usah oppa. Kita beli bahan makanan saja. Nanti biar aku yang memasakkannya untukmu.”
“Baiklah, kita pulang.”
Akhirnya kami memutuskan untuk menunda rencana hari ini. Tidak masalah buatku karena kesehatan Jaejoong oppa jauh lebih penting. Kami mampir di sebuah minimarket kecil. Aku turun dan segera masuk untuk membeli makanan kaleng yang cepat saji dan beberapa kaleng soda.
“Oppa istirahatlah. Nanti aku bangunkan kalau makanan sudah siap.”
“Ne. Jangan nyalakan api terlalu besar!”
“Ne.”
Oppa tidur di sofa ruang keluarga, sementara aku menyiapkan makanan untuknya. Yah~ aku memang mahir memasak. Kalau oppa pulang telat atau sakit, aku yang menggantikannya mengurus rumah. Benar-benar calon ibu yang baik, bukan? Setengah jam kemudian aku sudah selesai memasak. Aku berniat membangunkan Jaejoong oppa, namun kuurungkan niatku ketika aku melihatnya tengah pulas tertidur. Aku tidak berani mengganggu tidur manisnya. Sangat jarang oppa bisa tidur sepulas ini. Akhirnya kuputuskan untuk makan sendirian. Setelah makan aku meletakkan sisa makanan di kulkas.
Aku membuka laptopku. Mengecek e-mail. Tapi seperti biasanya, nihil. Tidak ada pesan baru yang masuk. Lalu kuputuskan untuk melanjutkan menulis novel terbaruku sambil memutar lagu-lagu favoritku.
--~~~--
“Kau kembali?”
“Aniya. Aku diusir.”
“Berapa lama?”
“5 tahun. Sejak tahun lalu.”
“Waeyo?”
“Aku berulah lagi.”
“Wae?”
“Aish~ aku sudah tidak tahan, Sunbaenim. Aku ingin...”
“Ne ne. Aku mengerti maksudmu. Tapi apa tujuanmu sebenarnya?”
“Itu... Aku tidak bisa mengatakannya padamu. Tapi aku yakin suatu saat kau pasti mengerti.”
--~~~--
-to be continued-









