I made this widget at MyFlashFetish.com.

W E L C O M E

welcome to my fun parade
welcome to my fun world
welcome to my life
enjoy it

let's play !

let's play !
have to be happy

Kamis, 10 Juni 2010

Finally

Ahhh… Sejuknya… Inilah yang paling aku rindukan dari kota ini. Bandung. Lima tahun puas berlibur di kampungku, Jakarta. Bebas dari tugas-tugas kantor. Tinggal menunggu kapan aku dinobatkan sebagai direktur utama di perusahaan tempatku bekerja. Seneng banget akhirnya aku bisa kembali kesini. Menikmati udara sejuk sore hari yang mampu menenangkan hati, dengerin soundtracks Full House, drama Asia kesukaanku tentunya, dan ditemani secangkir teh hijau hangat. Hmmm… Benar-benar surga dunia. Nggak ada yang mampu mengalahkan kenikmatan ini. Kulihat sesosok pria menawan menyapaku dari kejauhan dengan senyuman manisnya, baru saja masuk kafe tempatku berada sekarang. Tiba-tiba terlintas memori-memori masa laluku. Ya. Masa SMP dan SMA. Masa-masa terindah dan paling kurindukan dalam hidup.


Teeeeeeeettttttttttt... Teeeeeeeettttttttttt... Teeeeeeeettttttttttt...
Bel tanda kelas berakhir berbunyi. Hari ini kelas ditutup lebih awal dari biasanya karena minggu depan kakak kelas 3 akan menghadapi Ujian Nasional. Seperti biasanya aku meninggalkan kelas bersama sahabat-sahabatku, Ovie, Alya, Riri, dan Dira. Kami memang sudah seperti keluarga. Padahal kami baru bersama hanya beberapa bulan yang lalu. Ya itulah kami. Anak-anak yang mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Istilah kerennya, easy going lah. Dan seperti biasa pula, hampir setiap pulang lebih awal, kami tidak langsung pulang, melainkan melancong kemanapun kami suka. Tetapi tidak untuk hari ini. Kami sangat lelah. Entah apa penyebabnya. Mungkin karena hampir setiap hari kami tidak ada di rumah untuk pergi les atau mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Akhirnya kami sepakat untuk langsung pulang ke rumah masing-masing. Karena aku merasa bosan di rumah, akhirnya aku memutuskan untuk jalan bersama seorang sahabatku yang memang tidak satu sekolah denganku, Karis. Aku pun mengeluarkan handphone dari saku seragam dan segera mengetik SMS untuk Karis.
15 menit kemudian aku tiba di sekolah Karis. Rupanya Karis dan teman-temannya telah menantiku. Akhirnya kami langsung menuju ke rumah Karis. Sekitar 3 jam kami berbincang-bincang, Luthfia, Evana, dan Rizki teman-teman Karis berpamitan pulang. Tetapi aku masih tetap tinggal di rumah Karis. Karena memang sudah hampir sebulan kami tidak bertemu. Sampai akhirnya jam menunjukkan pukul setengah enam sore. Aku pun berpamitan setelah aku dan Karis membuat janji bahwa besok kami akan jalan ke mall untuk berbelanja.
Keesokan harinya Karis menjemputku dan kami pun berangkat ke satu mall. Tujuan utama kami ke mall adalah membeli sepatu kets dan kemeja putih. Setelah puas berbelanja, kami menuju masjid yang letaknya di seberang jalan mall untuk melaksanakan shalat dhuhur. Setelah shalat kami pun pulang karena matahari sudah tertutup oleh awan mendung. Sore itu hujan. Sampai di rumahku, kami kembali mengobrol. Kebiasaan kami, berbuat maksiat. Memperbincangkan orang. Ya. Karena hal itu sudah menjadi menu wajib kami kapanpun kami bersama. Tiba-tiba, handphone Karis berdering tanda telepon masuk. Agiel. Dia adalah teman satu kontingen kami saat perkemahan SD dulu.
Karis : “Hallo, ada apa, Giel?”
Agiel : “Hallo… Lagi dimana, Ris?”
Karis : “Lagi di rumah Nesy. Baru jalan sama dia. Kenapa?”
Agiel : “Nggak sih. Pengen ketemu Shinta nih. Dia pulang nggak ya?”
Karis : “Oh iya. Mestinya dia pulang dong. Nanti aku hubungin deh. Oke!”
Agiel : “Oke deh. Udah dulu, ya. Salam buat Nesy!”
Karis : “Sip!”
Karis menutup teleponnya.
“Agiel pengen main ke rumah Shinta,” kata Karis.
“Oh iya. Aku juga kangen nih. Nanti aku minta nomornya dulu ke temenku,” jawabku.
Aku mengetik SMS untuk Zola, sahabatku semasa SMP yang kebetulan sekarang satu sekolah dengan Shinta. 15 menit berlalu. Belum ada balasan dari Zola. Kemudian aku memutuskan untuk menghubunginya langsung lewat telepon.
Aku : “Jo, minta nomor Shinta. Sekarang, ya. Tolong kirimin lewat SMS!”
Zola : “Iya. Bentar, ya.”
Aku ; “Ok! Makasih sebelumnya.”
Zola : “Sama-sama. Assalamu’alaikum…”
Aku : “Wa’alaikumsalam.”
Deg…
Setelah aku menutup telepon, tiba-tiba aku menitikkan air mata.
“Lho? Kenapa, Nes?” Tanya Karis.
“Nggak apa kok, Ris. Denger suara Zola di telepon barusan aku jadi kangen banget sama dia,” jawabku sambil mengusap air mata. “Aku ngerasa, dia bakal ada buat aku, dan ada di sampingku, Ris.”
“Hey, Nona manis. Jangan nekat, ya! Emang kamu nggak kapok dimusuhin sama si Okta, pacar Zola yang kayaknya dendam kesumat banget sama kamu itu? Sadar, Nona! Udah berapa kali kamu dimusuhin, hah? Aku aja capek dengerin kamu curhat tentang cewek itu maki-maki kamu melulu. Huhhh… Udah udah. Forget it, okay!” terocos Karis.
“Iya, Karis sayang. Aku ngerti kok. Tapi biarpun Okta benci kayak apa sama aku, aku nggak pernah peduli tahu! Biarin dia capek sendiri. Orang aku Cuma nganggep Zola sebagai sahabat, bahkan adik. Nggak lebih. Oktanya aja tu yang dikit-dikit salah paham. Males banget tau nggak ngurusin orang kayak dia. Bikin maksiat aja,” ucapku kesal.
“Oke oke, aku tahu. Ya udahlah nggak usah bahas lagi. Nggak penting. Dan kamu, hentikan air matamu itu!’ pinta Karis dengan wajah kamucunya.
“Siap!” jawabku tersenyum.
Aku sudah sedikit lebih lega karena telah mencurahkan semua isi hatiku pada Karis. Setidaknya aku bisa lebih tenang. Pukul 4 sore, Karis pamit pulang.
Malam harinya, aku kembali memikirkan Zola. Rasa rinduku semakin menggebu. Ingin aku mengiriminya sebuah pesan. Tapi kuurungkan niatku itu. Karena aku tahu pasti tidak akan dibalas karena dia mungkin menganggapnya tidak penting. Akhirnya aku memutuskan untuk berbagi cerita dengan Ovie melalui Yahoo! Messenger.
Nesy_scorz : “Vie, lagi ngapain kamu?”
Ovie_27 : “Lagi nonton TV. Kenapa kau?”
Nesy_scorz : “Aku kangen Zola. Tadi aku telpon dia. Suaranya nggak nguatin.”
Ovie_27 : “Lah? Aneh-aneh aja kau. Nggak kapok dimusuhi Okta lagi kau?”
Nesy_scorz : “Ngapain aku harus takut? Aku nggak salah, yeee.”
Ovie_27 : “Iyeee… Tau aku. Dia pulang?”
Nesy_scorz : “Mestinya gituu…”
Ovie_27 : “Ya udah. Ajak ketemuan apa susahnya? Aku gemes tau. Hehe.”
Nesy_scorz : “Gila kau! Bisa-bisa aku salting lagi. Zzz…”
Ovie_27 : “Halah… susah kamu dibilangin. Pusing ah. Aku mau tidur.
Dahhhh…”
Nesy_scorz : “Huuu… Dasar kebo kamu! Hahaha…”
Ovie_27 : “Biarin, yeee…”
Aku dan Ovie mengakhiri obrolan singkat itu. Aku merasa pusing dan lelah. Akhirnya kuputuskan untuk tidur. Aku berdoa dan berharap bisa memimpikan Zola.


Jadwal hari ini, melaksanakan penelitian yang merupakan tugas liburan. Aku bersama kelompokku melakukan penelitian dengan pengelola Museum Transportasi. Sekitar jam 9 pagi aku berangkat menuju Museum Transportasi. Karena orangtuaku sedang berada di luar kota, aku berangkat diantar supir ayahku, Pak Kusno. Seperti biasa, macet. Ya namanya juga Jakarta. Macet seakan menjadi santapan pagi untuk para pekerja, anak sekolah, dan juga mahasiswa. Alhasil, aku terlambat datang di tempat. Sandy, Fitri, dan Rana yang merupakan teman satu kelompokku telah menantiku disana.
“Lama banget kamu, Nes?” Tanya Sandy dengan mimik agak kesal.
“Maaf banget, guys. Aku kena macet. Emang kalian pada datang jam berapa sih?”
“Aku sih baru aja datang, Nes. Hehehe…” jawab Rana.
“Huuu… Rana tu nyebelin banget tau nggak. Udah ditungguin malah mandinya makin dilama-lamain,” ucap Fitri kesal pada Rana.
“Maaf maaf, nona cantik,” kata Rana. Fitri masih saja kesal.
“Ya udah. Nggak usah basa-basi lagi. Mana daftar pertanyaan kalian? Kita susun dulu. Cari tempat teduh, yuk!” perintah Sandy.
Kami pun mengumpulkan daftar pertanyaan yang telah kami buat di rumah masing-masing. Dan kami menuju tempat teduh di bawah pohon rindang. Rana menulis kembali pertanyaan yang kami sepakati sebagai bahan penelitian. Tiba-tiba aku merasa pusing dan mual. Tetapi aku membiarkannya karena memang sudah menjadi kebiasaanku saat hari pertama aku datang bulan. Setelah semua pertanyaan selesai disusun, kami segera masuk ke museum. Kami mendatangi lobi utama dan menyerahkan surat tugas yang diberikan oleh guru kami. Lalu kami ditemui oleh pemandu wisata museum tersebut. Kami menuju ke ruang koleksi pertama. Baru 10 menit berjalan, tiba-tiba aku terjatuh tak sadarkan diri.
Sampai 10 menit berlalu, aku masih belum bisa membuka mataku. Kepalaku masih saja terasa pening.
“Nes! Nes! Bangun, Nes!” Rana membangunkanku.
Perlahan aku membuka mataku. Dalam hati aku bertanya-tanya dimana aku sekarang?
“Nes, kamu nggak apa-apa, kan?” Tanya Sandy padaku.
“Minum dulu tehnya, Nes!” kata Fitri sambil meminumkan secangkir teh hangat. “Udah baikan?”
“Guys, kita sekarang dimana? Tadi aku kenapa?” tanyaku ingin tahu.
“Tadi kamu pingsan. Nah kita semua panik. Terus kamu langsung diangkat ke mobilku and aku langsung tancep gas kesini. Habisnya aku bingung banget sih,” jawab Sandy.
“Lho? Terus penelitiannya gimana?”
“Udahlah, yang penting kamu sehat dulu. Nanti bisa kita lanjutin. Kita udah bikin perjanjian sama pihak museumnya kok. Kamu tenang aja,” jawab Fitri.
“Guys, makasih ya,” ucapku. Aku menitikkan air mata.
“Not at all,” jawab Sandy.
“Udah nggak usah nangis. Kita tau kok kamu emang lagi nggak enak badan,” kata Rana.
Tiba-tiba pintu kamar rumah sakit terbuka. Ovie, Alya, Dira, dan Riri datang.
“Nesy!!! Kamu kenapa, heh?” kata Ovie dengan raut wajah khawatir.
“Ssssttt…!!! Ovie jangan keras-keras kenapa?” kata Alya.
“Nesy nggak apa-apa kok. Kata dokter cuma kecapekan,” kata Fitri.
“By the way, darimana kalian tau kalo Nesy disini?” Tanya Rana.
“Tadi Sandy ngirim SMS ke aku. Terus aku kirim ke mereka,” jawab Dira.
“Temen-temen, makasih banget ya. Tapi aku minta tolong jangan kasih tau ortuku kalo aku sekarang disini,” kataku.
“Tenang aja, Nes. Mulut kita nggak ember kok,” kata Riri.
Aku tersenyum.
“Oke deh. Karena udah ada kalian, aku, Rana, sama Fitri pulang dulu, ya?” kata Sandy.
“Okelah kalo begitu,” kata Dira.
Merekapun pulang. Tinggallah Ovie, Alya, Dira, dan Riri menemaniku.
“Oh iya, Nes. Tadi aku ngasih kabar ke Zola kalo kamu sakit. Dia bilang untuk sementara ini dia nggak bisa jenguk kamu. Takut sama Okta,” kata Ovie.
“Ih… Jijay banget tuh orang. nggak jantan banget. Suami-suami takut istri dong. Hahaha…” ejek Riri.
“Dia dari dulu emang kayak gitu. Pacarnya kan emang nyebelin banget. Banyak yang benci tau,” kata Alya.
“Terus ngapain dipacarin?” Tanya Dira.
“Nah itu dia yang ge-je alias gak jelas. Aku aja heran banget,” tambah Alya.
“Ah udahlah nggak usah bahas Zola. Lho, Nes, kok nangis?” Tanya Riri.
“Hah? Nggak kenapa-napa kok,’ jawabku mengusap air mata yang memang menitik lagi.
“Beneran nggak kenapa-napa, kan?” Tanya Dira.
“Iya…” jawabku berbohong.
Tiba-tiba handphoneku bordering tanda SMS masuk.
From : Zola (081234567890)
Text : Nes, kamu nggak apa, kan? Sorry banget aku nggak bisa nemenin kamu. Ya kamu tau sendiri lah. Cepet sembuh, ya…
Aku pun membalasnya…
To : Zola (081234567890)
Text : Makasih, Jo…

“Siapa, Nes?” Tanya Ovie sambil memainkan handphonenya.
“Zola…” jawabku singkat.
“Oh… Tanya apa aja?”
“Cuma Tanya keadaanku. Dia bilang nggak bisa jenguk,”
“Kenapa?”
“Tahu sendiri lah,”
“Oh… Kamu jawab apa?”
“Thanks,”
“Terus?”
“The end,”
“What? Gitu doang?”
“Paham lah,”
“Wah, kebakaran jenggot nih aku,”
“Hahahaha…” kami semua menertawakan tingkah konyol Ovie.
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumsalam…” jawab kami serentak.
“Siapa tuh? Bukain sana, Dir!” perintah Riri.
Dira membuka pintu. Ternyata Mbok Sumi bersama Pak Kusno, pembantu rumahku dan supir ayah.
“Mbak Nesy gimana keadaannya?” Tanya Mbok Sumi agak khawatir.
“Udah agak baik kok, Mbok. Oh iya, Mbok sama Pak Kusno jangan bilang ayah sama bunda, ya,” pintaku.
“Iya, Mbak. Tapi siapa yang akan bayar rumah sakit?” tanya Pak Kusno.
“Aku masih punya sedikit cash kok, Pak,” jawabku.


Hari berikutnya aku sudah diperbolehkan untuk pulang oleh dokter. Liburan hanya kuhabiskan dengan berbaring di tempat tidurku. Sesekali aku keluar kamar. Itu pun jika aku merasa lapar dan menemui tamu orangtuaku.


Libur Ujian Nasional pun berakhir. Aku kembali masuk sekolah seperti biasanya. Tiada yang special di mataku. Akhir-akhir ini aku memang lebih banyak diam karena aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Sifatku juga tampak lebih aneh di mata semua orang. Aku lebih temperamen dari biasanya. Aku sendiri tak tahu apa penyebabnya. Tekanan batin? Mungkin juga. Tapi, tekanan karena apa? Entah. Aku sendiri juga bingung mengartikannya.
Sampai pada suatu hari, aku memutuskan untuk mengganti nomor handphoneku. Tentu saja aku tidak memberitahukan hal ini pada Zola. Aku takut suatu hari nanti aku akan merindukannya. Dan akhirnya aku memutuskan untuk melupakannya perlahan-lahan.

2 tahun kemudian…

Siang yang sangat panas. Aku hanya berdiam diri di kamar, tiduran, menyalakan AC, ditemani segelas besar jus strawberry dan setoples choco chips, sambil mengutak-atik handphoneku. Sudah menjadi kebiasaanku, online Yahoo! Messenger. Tiba-tiba sinyal masuk dan…
Dani_ahmed : Hai, Nes! How are you, pal? Lagi ngapain aja?
Wah…!!! Dani! My Prince Charming! Pangeran tampan nan menawan. Dani adalah teman masa SMPku. Kami hanya pernah bertemu sekali dalam satu even lomba tingkat provinsi. Aku langsung bersemangat membalasnya.
Nesy_scorz : Haiiiiiii, Dan! Very nice! Lagi tiduran aja nih. Bosen banget. Kamu?
Dani_ahmed : Aku lagi di ITB nih. Baru selesai USM. Kamu lanjut dimana?
Nesy_scorz : Wah sama! Aku juga baru pulang dari ITB kemarin. USM juga.
Dani_ahmed : Hmmm… Ambil jurusan apa?
Nesy_scorz : Teknik Informatika. Kamu?
Dani_ahmed : Fisika dong. Hahaha…
Nesy_scorz : Ah… I see… Udah ngira.
Dani_ahmed : Semoga aja kita bisa ketemu disana ya, Nes?
Nesy_scorz : Amin…
Dani_ahmed : Hey, udah ya? Aku udah dijemput. Mau langsung capcus ke Bogor.
Nesy_scorz : Okay! See ya!
Obrolan kami akhiri. Wah nggak nyangka banget dia juga daftar di ITB. Kalau ketemu. Pasti seru nih. Aku tersenyum-senyum sendir membayangkannya.
Dua minggu kemudian, pengumuman USM tiba. Aku membuka website ITB. Dan ternyata, aku dinyatakan lolos seleksi di urutan kelima. Tentu saja aku sangat bahagia aku langsung menghubungi orangtuaku yang tinggal di Surabaya dan kakakku yang tengah belajar di Amerika. Berbagai ucapan selamat membanjiri inbox handphoneku, e-mail, dan juga jejaring sosialku yang lain. Aku teringat Dani. Aku langsung membuka website ITB Fakultas Ilmu Fisika. Febriandani Bagus Ahmadi. Itulah nama lengkap Dani yang tercantum di urutan ketiga pada daftar peserta yang lolos. Aku pun langsung menelponnya dan mengucapkan selamat.


Dua bulan berlalu. Aku memulai kuliahku di Bandung. Tentu saja aku berpisah dengan teman satu gengku dulu. Rahma Hariza Novia alias Ovie yang sekarang di Universitas Padjajaran, Analya Marizka Ferinasari alias Alya yang mengambil jurusan Kedokteran Umum di Universitas Diponegoro Semarang, dan Anisa Aulia Fadira alias Dira yang sangat ingin menjadi pegawai perpajakan yang mampu mewujudkan mimpinya di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara di Jakarta. Dan sahabatku Karisma Widya Thalita alias Karis melanjutkan studinya di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.
Hari ini adalah minggu kedua aku masuk kuliah setelah menjalani kegiatan ospek yang agak memberatkanku. Tak sedikit temanku yang dari SMA yang sama denganku masuk di jurusan Teknik Informatika. Ada Yosa, Adisty, Harlan, dan teman satu geng di SMAku , Fallari Ribbi Arihanny alias Riri. Jadi aku tak merasa kesepian disini. Saat jam pulang, aku bersama Riri dan Yosa menuju ke kafé di kampus kami. Seseorang menepuk bahuku dan… Azmi!
Malam itu Azmi menjemputku di kost. Kami hendak jalan-jalan keliling kota Bandung. Azmi mengemudikan mobilnya menuju Boscha. Sesampainya disana, aku melihat sosok yang sepertinya sangat kukenali bersama seorang wanita. Zola? Apa mungkin lelaki itu Zola? Tapi, siapa yang digandengnya itu? Okta? Bukan. Ah. Mungkin hanya perasaanku saja. Aku berjalan menuju taman sekeliling Boscha. Tentu masih bersama Azmi. Azmi, adalah teman khayalanku dulu di satu jejaring social. Saat itu kami membuat perjanjian untuk kuliah di ITB bersama dan akhirnya janji itupun terpenuhi. Kami duduk di satu gazebo yang tersedia di taman sekeliling Boscha. Lelaki yang kukira adalah Zola itu berjalan menuju ke arahku dan Azmi. Namun saat tepat di belakang kami, dia hanya sekilas menatap kami dan langsung memalingkan wajahnya. Tak bisa dipungkiri. Itu memang Zola! Ya, dialah Zola. Tapi, siapa wanita yang sedari tadi tangannya terus berada dalam genggaman tangan Zola? Yang jelas, bukan Okta. Aku segera beranjak dan berlari menuju arahnya.
“Jo!” teriakku memanggilnya.
“Iya? Ada apa? Anda siapa?” jawabnya tenang dengan wajah tanpa dosa.
Sial. Apa maksudnya?
“Hah? Kamu nggak kenal aku atau pura-pura lupa? Atau karena kamu udah punya wanita baru di sampingmu ini?”
“Lho? Mbak ini siapa? Apa kita pernah kenal?”
“Zola! Kamu Zola Fahmi Adiansyah, kan?”
“Lho? Aneh. Mbak siapa sih? Kok sampai tahu nama lengkap saya segala?
“Jo, ini aku, Nesy! Sahabatmu waktu SMP,”
“Nesy? Nesy yang mana?”
“Siapa sih, Sayang? Nggak jelas banget,” Tanya wanita itu.
“Nggak tahu nih,” jawab Zola.
“Gila kamu, Jo!”
Aku mendaratkan tamparan tanpa ampun di pipi Zola.
“Heh! Apa-apaan ini?” Zola menyentakku.
Belum sampai tangan Zola mendaratkan tangannya ke pipiku dengan maksud membalas tamparanku tadi, tiba-tiba…
“Berani main kasar sama perempuan?” Tanya Azmi sambil memegang dan mencegah tangan Zola yang hampir mengenai pipiku.
“Siapa kamu?” Tanya Zola.
“Mau tahu? Aku orang yang paling dekat dengan Nesy. Kenalin, Azmi, pacar Nesy,” jawab Azmi, berkata tak sesuai dengan realita.
Apa? Pacar? Aku jadi bingung. Tapi… Oke. Jangan bingung sekarang!
“Nes, mendingan kita pergi aja deh. Nggak mutu banget ngurusin orang nggak punya perasaan kayak manusia satu ini,” kata Azmi.
“Ya udah lah, Mi,” aku mengalah.
Azmi menarik tanganku dan membawaku pergi dari TKP.
“Mi, thanks ya?” ucapku.
“It’s ok!”
“Omong-omong, tadi kenapa kamu pakai acara ngaku sebagai pacarku segala sih?”
“Acting.”
“Oh…”
Kami terus berjalan menyusuri taman menuju ke bangunan utama Boscha. Sesampainya disana, kami menikmati malam dengan melihat angkasa yang luar biasa indahnya.
“Inilah bukti keagungan Tuhan,” Azmi berkata sambil menatap langit.
Aku hanya terdiam. Masih memikirkan kejadian tadi.
“Seperti pertemuan kita ini. Dulu kita pernah berjanji dan berdoa agar kita bisa dipertemukan dan disatukan dalam satu ikatan persahabatan abadi,”
Aku menatap Azmi. Hanya kebingungan yang ada di benakku. Kemudian Azmi menatapku.
“Aku seneng banget bisa ketemu orang sebaik kamu. Aku beruntung bisa kenal sama kamu. Aku bersyukur Tuhan mengabulkan doaku,”
Azmi menggenggam tanganku. Tangannya dingin. Dia memelukku.
“Berjanjilah kamu akan jadi sahabatku selamanya,” bisiknya dalam pelukan.
“Janji!” jawabku lirih.
Aku melepaskan pelukannya dan menunjukkan jari kelingkingku. Azmi membalasnya.
Waktu telah menunjukkan pukul 9 malam. Azmi mengajakku pulang. Sebelum dia menyalakan mesin mobilnya, dia menawariku makan. Aku mengangguk setuju. Kami pun menuju warung pasta. Setelah makan malam, Azmi mengantarku pulang ke kost.

3 tahun kemudian…

Pagi ini Raka mengajakku jogging dan sarapan pagi. Sepulang jogging, Raka mampir ke kostku lebih dulu karena dia hendak meminjam novel milikku. Tiba-tiba…
Tok… Tok… Tok…
Ketokan dari balik pintu kostku. Kulihat dari jendela. Harlan. Ada apa gerangan? Tak biasanya dia datang ke kost sepagi ini.
“Harlan? Ada apa?”
“Nes, Dani… Dani…”
“Dani kenapa?”


“Keluarga Dani?” Tanya dokter.
“Saya sahabatnya, Dok,” jawabku.
“Dani tidak apa-apa. Hanya memar dan lukanya tidak terlalu berat,” kata dokter.
“Alhamdulillah,” ucapku lega.
“Kami boleh masuk, Dok?” Tanya Harlan yang telah menemaniku di rumah sakit.
“Silakan. Tapi tolong hibur Dani, ya?”
“Baik, Dok.”
Kami pun masuk ke ruang IGD.
“Dan, are you okay?” tanyaku cemas.
“Don’t worry, girl,” jawab Dani tersenyum.
“Kamu bikin kaget aja tau nggak?” kata Harlan.
“Hahahaha…” Dani tertawa.
“Guys, aku pulang dulu, ya? Aku harus gantian nunggu kamar kost,” pamit Harlan.
“Ok. Thanks ya, Lan?” ucap Dani.
“Hati-hati, Lan,” pintaku.
Harlan pun meninggalkan rumah sakit. Hari sudah petang. Aku bingung akan pulang dengan siapa. Maka aku memutuskan untuk menemani Dani sampai dia tertidur. Karena aku tahu, hanya aku yang bisa menolongnya sekarang.
“Kamu nggak balik, Nes?” Tanya Dani.
“Mau pulang sama siapa coba malem-malem gini?”
“Minta jemput si Azmi aja!”
“Azmi lagi pulang kampung ke Palembang. Udah lah. Malem ini aku temenin kamu.”
“Makasih ya, Nes?”
Aku hanya menjawabnya dengan senyuman.
“Cepet sembuh ya, Dan! Skripsimu belum selesai, kan?”
“Iya, Nona.”
“Tidur, gih!”
Aku menarik selimut Dani sampai dia merasa hangat.
Dua hari kemudian, Dani sudah diijinkan pulang. Kemana Dani pergi selalu ada aku. Ya. Sejak Dani kecelakaan beberapa minggu lalu, aku yang selalu menemaninya. Dan kami pun semakin dekat. Setiap hari aku menjemput dan mengantarnya, mengajak makan, jalan-jalan, dan belajar bersama. Mungkin karena kuliah kami yang hampir selesai, dan kami tahu bahwa suatu saat kami akan berpisah. Namun semangat kami mampu mengalahkan semua kemungkinan itu. Sampai pada saat wisuda tiba, dan kami harus berpisah, kami menghabiskan sehari bersama di satu tempat. Malam setelah wisuda, Dani memberiku SMS.
From : Dani (081357462908)
Text : Aku tunggu di Gedung Sate jam 7 malam.
Pukul 18.30 aku menuju Gedung Sate. Dani telah menantiku disana. Dia sedang menatap langit. Aku menghampirinya dan duduk tepat di sampingnya.
“Kamu liat bulan itu?” pinta Dani.
“Bulan Purnama, kenapa?” tanyaku.
“Kamu nggak sadar?”
Aku menggelengkan kepala tak mengerti.
“Liat deh! Bulannya dikelilingi pelangi. Kamu inget waktu SMP dulu kamu pernah ngasih aku SMS. Isinya sama kayak yang lagi kita alami malam ini.”
“Iya, aku inget.”
“Nah sekarang, tulis apa maumu 5 tahun ke depan dan masukkin ke kaleng ini. Nanti kita kubur dan kita buka 5 tahun lagi setelah semua yang kita inginkan terjadi.”
Aku hanya menuruti perintahnya. Kemudian aku menuliskan tiga keinginanku. Setelah itu kami menguburnya.
“Jangan lupain momen malem ini ya, Nes!”
“Pasti!”
“Aku harus pindah ke Jepang selama 5 tahun.”
Deg…
Jantungku serasa berhenti berdetak, aliran darahku seakan terhenti. Aku menatapnya sekilas dan kemudian menundukkan kepala. Aku tak bisa menahan tangisku. Aku terisak dalam gelapnya malam dan menjadi terang karena gemerlapnya bintang serta terangnya bulan.
“Aku janji bakal pulang buat kamu. Aku nggak mau liat air mata kamu.”
Aku berlari. Menjauh dari Dani. Namun Dani adalah seorang yang tanggap dan bijak. Dia tahu apa yang seharusnya dia lakukan di saat seperti ini. Dani langsung berlari dan meraih tanganku. Seketika aku menangis dalam pelukannya. Tak dapat kupungkiri bahwa aku memang tak berdaya setelah mendengar ucapannya. Aku mengusap air mataku. Aku berhenti menangis. Aku tak mau mengecewakan Dani.
“Dan, kamu perlu tahu kalau aku sayang banget sama kamu.”
“Dan kamu juga perlu tahu kalau aku juga sayang banget sama kamu. Aku bahkan nggak pengen jauh dari kamu, Nes.”
Aku membalas pelukan Dani. Sangat erat. Seakan aku tak ingin melepaskannya.
Keesokan harinya aku telah mendapati diriku telah terbaring di atas kasur kostku. Pening. Aku menemukan sepucuk surat dan sebuah boneka Teddy Bear.
Bandung, 8 Agustus 2008
Dear Davindra Paramnesy V,
Maaf aku nggak bisa kasih yang terbaik buat kamu. Sampai ketemu 5 tahun lagi. Aku janji bakal kembali buat kamu. Aku akan selalu merindukanmu dan kita akan selalu bersama.
Salam hangat,
FeDani
Febriandani BA
NB.
Pesawatku take off pukul 07.00. Teddy Bear itu sebagai penggantiku untuk menemani hari-harimu sampai 5 tahun ke depan.
Aku melihat jam. Sial. Aku terlambat 15 menit. Aku kembali hanya bisa terdiam, menangisi pagi yang suram ini.

Maafkan aku, Dani. Selamat jalan. Aku akan selalu merindukanmu disini. Berjanjilah kau akan kembali untukku.


Lelaki itu menuju meja tempatku berada.
“Hai, Nes! Udah lama nunggu?” tanyanya sambil meneguk minuman yang telah tersedia di atas meja tanpa seizinku.
“Eh eh…” aku tak bisa menghentikannya.
“Wah, jusnya seger banget. Kamu emang tau banget aku lagi haus,”
Lalu seseorang menepuk bahuku…
“Nes!”
“Hai, Dan!”
Dani. Aku bersalaman dan cipika-cipiki dengannya.
“Jus yang aku pesan mana?”
“Aduh kamu pesen lagi aja, ya? Udah diminum sama Zola.”
“Ya udah lah nggak apa. Kita langsung pulang aja. Mama udah nunggu. Undangannya udah dikasihin?”
“Oh, jadi ini buat dia? Kenapa nggak bilang?” Tanya Zola.
“Kamu nggak nanya! Oh iya, ini undangannya.”
“Undangan apa?”
“Baca aja deh,”
“Hah? Pernikahan?” Zola kaget.
“Jangan lupa datang, ya? Jo, kita duluan, ya? Udah ditunggu pesawat.”
“Tunggu, Nes! Jadi hanya untuk ini setelah semalem kamu memintaku untuk datang kesini? Kamu tahu? Aku sayang sama kamu, Nes. Kamu nggak sadar, ya?” cegah Zola.
“Maaf, Jo. Kamu masa laluku. Kamu udah nyakitin perasaanku. Jadi, berbahagialah dengan wanitamu itu. Terimakasih atas pengkhianatanmu. Aku memilih Dani sebagai pendamping hidupku dan keputusanku sudah bulat!”
Zola masih ternganga dan terkejut. Sementara aku dan Dani malah meninggalkannya. Dan begitulah akhir kisah cintaku yang melibatkan banyak pihak dan cukup rumit. Akhirnya, cinta Dani lah yang menjadi pilihanku. Ingatlah bahwa cinta bukan untuk dikhianati dan dipermainkan. Cinta itu untuk dirasakan dan dihargai…


-Nurtiana Elma Rosyada-

Rabu, 28 April 2010

dia

Sore itu, aku berencana mengunjungi suatu tempat. Tempat dimana segala kebahagiaanku dapat tertuang. Tempat dimana semua duka dan sukaku dapat tercurah. Ya, jembatan penyeberangan Arwana. Di tempat itulah aku akan berusaha mengenang semua yang telah terjadi.
Tepat 2 tahun yang lalu, aku mendapat satu surat dari seseorang yang sangat tak kupercayai akan mengenalku lebih jauh, yang tak kupercaya akan menjadi seseorang yang kemudian menjadi teman hidup yang sangat baik. Dio Aleko. Itulah nama kapten tim basket sekolahku yang juga kakak kelasku yang memberikan surat yang menurutku surat itu adalah surat cinta. Aku masih menyimpan surat itu di kotak kenangan masa SMA yang kuberi nama ”a billion memories of SHS”. Inilah isi surat tersebut.

Nadira,
Aku tunggu kamu di jembatan penyeberangan Arwana jam 5 sore. Sesuatu yang takkan pernah kamu lupakan seumur hidupmu akan terjadi malam ini.
Dio Aleko

Dan sore itu pula aku akan membawa serta surat itu ke jembatan Arwana.
Aku merasakan hembusan angin yang lembut membelai rambutku, serasa memanjakanku. Aku terus memandang lalu lintas di bawahku yang tak terlalu padat. Sama seperti waktu itu.
Ketika sore itu aku tiba di jembatan Arwana, Kak Dio telah menantiku. Senyum hangatnya menyambut kedatanganku. Senyum yang tak akan dapat kulupakan. Aku pun mendekatinya dan bertanya, ”Udah lama nunggu ya, Kak?”. Ia pun menjawab dengan suara lembutnya, ”Oh, nggak juga. Baru 10 menit.”. Lalu aku merasa bersalah, ”Maafkan aku, Kak. Aku harus nunggu sepedaku selesai diperbaiki.”. Kak Dio kembali tersenyum dan berkata, ”Sudahlah, nggak perlu diperpanjang.”. Aku terdiam. Demikian juga dengan Kak Dio. Tanpa pikir panjang, aku memecah keheningan dengan bertanya padanya, ”Kak, kalo boleh tahu, sebenarnya apa yang akan kita lakukan disini? Dan kenapa kakak mengundangku untuk datang kemari?”. Kak Dio menatapku dan menjawab, ”Hhh.. Oke, aku nggak mau basa-basi. Aku ingin memberikan satu tanda untukmu.”. Ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah kotak berwarna ungu. Ia memberikannya padaku dan menyuruhku untuk membukanya. ”Kamu mungkin heran kenapa aku meberimu kotak yang isinya hanya sebuah benda berbentuk bulan sabit ini, bukan?” katanya. ”Iya, Kak.” jawabku lugu. Tapi aku masih bingung. ”Kamu keberatan nggak kalo kita disini sampai malam nanti?” tanyanya. ”Oh, nggak apa kok, Kak. Kebetulan aku sendirian di rumah.” jawabku.
Malam pun tiba. Kak Dio menyuruhku mebuka kotak itu. Ajaib. Bulan sabit itu bercahaya. Aku tercengang melihatnya. Dan saat itu pula kak Dio mengutarakan isi hatinya padaku. ”Aku ingin menjadi bagian dari hidupmu. Aku ingin temani hidup kamu dengan semua kebahagiaanku. Maukah kamu menerimaku dengan segala kekuranganku?” tanyanya. Aku masih terlarut dalam kebahagiaanku dan aku hanya dapat menganggukkan kepalaku. Dan mulai saat itu, kami menjadi sepasang kekasih yang selalu diselimuti kebahagiaan setiap hari.
Satu tahun berlalu. Pagi itu kami berjanji akan bertemu di tempat dimana kami biasa bertemu untuk merayakan satu tahun hari jadi kami. Jembatan Arwana. Akan tetapi, kami akan bertemu sore hari karena pagi itu Dio hendak berlatih basket bersama timnya.
Jam 4 sore aku telah sampai di tempat itu. Dengan sabar aku menanti kehadiran sang pangeranku. Lima belas menit berlalu. Dio belum tampak batang hidungnya. Tetapi aku masih dengan sabar menunggunya, karena aku tahu aku sungguh mencintainya. Tiga puluh menit sudah terlewat. Tetapi Dio tak juga datang. Beberapa kali aku mencoba menghubunginya, mengirimnya pesan. Kembali nihil. Tak ada jawaban. Hingga empat puluh lima menit tiba, saat itulah Dio menjawab pesanku.

Sayang,
Maafin aku. Aku agak telat soalnya jam latihan ditambah & aku kejebak macet di jalan Asia.
Tunggu aku. Aku segera datang untukmu..

Aku sedikit lega telah menerima jawaban pesan darinya. Akan tetapi sepintas firasat tak begitu baik melintas di benakku. Tetapi aku mencoba segera melupakannya ketika kulihat sesosok lelaki dengan kaos tim basket bertuliskan ”evil colonies of Tunggal Jaya SHS” mengendarai sepeda sportnya sambil melambaikan tangan kanannya ke arah dimana aku berada. Senyum manisnya pun turut menghiasi wajahnya yang terlihat sangat lelah. Ketika ia hendak melintas di suatu persimpangan, ia tak menyadari bahwa lampu merah lah yang tengah menyala. Tiba-tiba,,,...
Aku hanya terdiam. Tak satupun kata terucap dari mulutku ketika melihat apa yang baru saja terjadi di depan pandanganku. Kemudian aku berlari menuruni anak tangga jembatan dan terus berlari ke tempat dimana Dio tergeletak. Aku meraih tubuhnya yang berlumur darah. Memangkunya, dan menangisinya. Aku mencium dahinya. Sejenak ia tersadar dan mengucapkan sepatah kata, ”Aku mencintaimu. Sungguh mencintaimu. Terimakasih, Sayang. Kamu telah memberiku semangat padaku. Membuat hidupku lebih bermakna dan berwarna. Maafkan aku yang tak sempat membahagiakanmu. Suatu saat nanti kita akan bertemu di lain tempat. Jauh dari dunia ini. Kita akan hidup bahagia bersama Sang Kuasa. Jangan menangis, Sayang. Tersenyumlah selalu untukku. Aku hanya akan pergi untuk sementara. Aku pasti akan kembali untukmu.” Aku hanya mengangguk dan air mataku terus mengalir semakin deras. Untuk terakhir kalinya, Dio pun mencium dahiku. Aku pun mengatakan sesuatu padanya, ”Aku mencintaimu lebih dari yang kamu tahu. Aku begitu bahagia bersamamu. Jangan pernah tinggalin aku.” Dan kalimat terakhir yang terucap darinya adalah, ”Aku bersumpah, dan aku akan membuktikan bahwa aku tak akan meninggalkanmu. Aku akan selalu ada disisimu, Nadira Febrilia.”
Kini, Dio mungkin telah bahagia di dunianya. Kemudian di hari ini yang juga seharusnya bertepatan dengan dua tahun hari jadi kami, aku tersadar dan ingat akan kata-kata Dio kala kami sedang merayakan lima bulan hari jadi kami bahwa aku tak boleh terlarut dalam kesedihan terus menerus.
Terimakasih Dio. Berbahagialah kau disana. Semoga kau mendapatkan tempat yang layak untuk kehidupanmu selanjutnya...



-edited from a school magazine i've ever read-

Minggu, 11 April 2010

David Archuleta

David James Archuleta (born December 28, 1990) is an American pop singer-songwriter. At ten years old he won the children's division of the Utah Talent Competition leading to other television singing appearances.[4] When he was twelve years old, Archuleta became the Junior Vocal Champion on Star Search 2.[4] In 2007, at sixteen years old, he became one of the youngest contestants on the seventh season of American Idol.[5] In May 2008 he finished as the runner-up, receiving 44 percent of over 97 million votes.
In August 2008 Archuleta released "Crush," the first single from his self-titled debut album.[4][6][7][8] The album, released two months later, debuted at number two on the Billboard 200 chart; it has sold over 750,000 copies in the U.S. and over 900,000 Worldwide.

Early life

Archuleta was born in Miami, Florida, to Jeff Archuleta and Lupe Marie, a salsa singer and dancer. He speaks Spanish.[12] Archuleta's mother is from Honduras, while his father is of Spanish, Danish, Irish, German, Iroquois, and Mexican descent.[citation needed] Archuleta has four siblings.[13] Archuleta's family moved to the Salt Lake City suburb of Sandy when Archuleta was six. He currently lives in Murray where he attended Murray High School.[14] Archuleta is a member of The Church of Jesus Christ of Latter-day Saints and the Boy Scouts of America.[15][16][17]
Archuleta started singing at the age of six, inspired by a Les Misérables video. "That musical is what started all of this", he said.[18] He started performing publicly at age ten when he participated in the Utah Talent Competition, singing "I Will Always Love You" by Dolly Parton; he received a standing ovation and won the Child Division.[19]

Musical influences

Archuleta's mother is from Honduras, and much of the music he listened to as a child was Latin-influenced including watching his mom sing at events with her sisters.[20][21] She also "was big on dancing" according to Archuleta, and would "make" him dance to traditional music with his older sister.[22] He also listened to jazz music, he said, from his father's collection as well as gospel, pop, rock and "soulful music."[18] In a later interview, he revealed that his father was a jazz musician. Archuleta also said he enjoys Broadway musicals.[23]
On his American Idol "Fast Facts" page, Archuleta cited his musical influences as Natalie Cole, Stevie Wonder, Kirk Franklin and Bryan Adams.[19] Like Elliott Yamin and another singer he admires, John Mayer, Archuleta tries to infuse his pop selections with a soulful vibe.[18] In a Seventeen interview he cites Sara Bareilles as a clever singer-songwriter whom he looks up to.[24]

Star Search

In 2003, when he was twelve years old, Archuleta sang on several episodes of the television show Star Search.[25][26][27] He ended up as the Junior Vocal Champion on Star Search 2, Losing the Junior Grand Champion title to Tiffany Evans.[28] On one episode, he sang against then-11-year-old Alexandréa Lushington, who became a "top 20" semi-finalist on American Idol alongside Archuleta.[26] Around the second year of being on Star Search he started focusing on the lyrics, "I didn't even pay attention to the lyrics when I was 12, 13".[20]
Archuleta's competing on Star Search led to appearances on The Jenny Jones Show and CBS' The Early Show, and meeting the finalists from American Idol's first season, for whom he performed a spontaneous a cappella rendition of "And I Am Telling You I'm Not Going" from Dreamgirls, and received praise from Season 1 winner Kelly Clarkson.[20][29] The year after Star Search he found out he had partial vocal paralysis but declined risky surgery and has said he feels he is almost fully recovered.[18][20] He limited his singing for specific occasions like Stadium of Fire, the Independence Day celebration at Brigham Young University Stadium.[20]
Archuleta made initial attempts at songwriting and arranging music after his Star Search experience and has written at least three songs.[20] His first singles in 2002 included "Dream Sky High" and "Don't Tell Me".[30]

American Idol

Archuleta received his ticket to the Hollywood final auditions at the San Diego tryouts – held at Qualcomm Stadium at the end of July 2007 – with a performance of John Mayer's "Waiting on the World to Change" with judge Randy Jackson spontaneously joining in to sing the background "waiting" in the song.[19][31] He was sixteen during the Hollywood auditions and attended school while a part of American Idol's seventh season.[5] His parents were there because he was a minor.[5] Archuleta also took advantage of the decision to allow contestants to play musical instruments when he accompanied himself on piano for his performances of "Crazy", "Another Day in Paradise", and "Angels".
During the 1970s themed week Archuleta sang the John Lennon song "Imagine", omitting the earlier verses in favor of the last one. Los Angeles Times columnist Ann Powers speculated that he wanted to avoid singing "no religion too" because of his faith. "As a Mormon, he's unlikely to espouse the song's agnostic ideal," she wrote.[32] However, he did sing the entire song on Good Things Utah when he was thirteen. When asked by judge Randy Jackson why he didn't sing the first verse, Archuleta said the third verse was his favorite because it has "a great message."[33]
After his performance of "We Can Work It Out", which judge Simon Cowell called "a mess", Entertainment Tonight reported that Archuleta was feeling pressure from his father, Jeff Archuleta, who "reportedly yelled at" his son after a recording session the previous night.[34] Jeff Archuleta, in an interview with Us Weekly, denied the claim.[35][36] A May 2008 Associated Press article reported that Jeff Archuleta had his son add a lyric from the Sean Kingston song "Beautiful Girls" into an interpretation of "Stand by Me" (from which "Beautiful Girls" samples its bass line), increasing the costs for licensing, and that this had resulted in Jeff Archuleta being banned from American Idol backstage rehearsals.[37] Archuleta defended his father calling him "a great guy" who keeps him grounded.[38]
During the Top 7 results show, the contestants were split into two groups. In one group was Syesha Mercado, Brooke White, and Kristy Lee Cook. In the other group was David Cook, Carly Smithson, and Jason Castro. Archuleta was the only one not sorted into a group. He was declared safe after the groups were formed, then was asked to choose the group he thought was safe. He refused, and sat down on the floor of the stage, much like Melinda Doolittle had done the previous season.
In the finale he sang "Don't Let the Sun Go Down on Me", "In This Moment" and "Imagine". Judge Simon Cowell declared that Archuleta won the evening and even David Cook, who ultimately won, thought Archuleta would win: "I have to concede it, the kid came out all three songs and nailed it", said Cook.[39] In the final tally, Archuleta received 44 percent of the votes.[40][41] During the finale show, identical commercials featuring Archuleta and fellow finalist Cook mimicked the Tom Cruise scene from Risky Business where he dances in his underwear playing an air guitar; they were promoting the game franchise Guitar Hero.

Taken from http://en.wikipedia.org/wiki/David_Archuleta