I made this widget at MyFlashFetish.com.

W E L C O M E

welcome to my fun parade
welcome to my fun world
welcome to my life
enjoy it

let's play !

let's play !
have to be happy

Senin, 06 Februari 2012

L'AILE D'ANGE ~~ Part I

Author         : Nurtiana Elma Rosyada a.k.a Kim Yoo Gi
Casts :
  • Kim Yoo Gi
  • Kim Jae Joong
  • Another casts will be added if they’re needed =D
 Yaaaaa!!! Ini FF pertamaku lhooo :D mianhae kalo agak aneh, maklumi saja karena belum kebiasaan :”> semoga bisa selesai sebelum ujian nasional dan semoga nggak ganggu waktu belajarku amiin... suka nggak suka tetep LIKE THIS yoo :P then, just enjoy this one! ;)
--~~~--

“Yoo Gi-ah! Yoo Gi-ah! Cepatlah keluar!”
“Aku sakit perut, oppa. Tunggulah! Aduuuhh!” teriakku dari dalam kamar mandi.
“Ya! Kau ini, cepatlah! Aku punya kabar gembira! Ppali ppali!” Jaejoong oppa masih saja meneriakiku dari luar.
Kabar gembira? Aish~ apa gerangan itu? Aku memang penasaran. Tapi rasa penasaranku benar-benar kalah jauh dengan rasa kebeletku :s
“Ne, tunggu saja, oppa! Bersabarlah!”
10 menit kemudian aku keluar dari kamar mandi dan...
“Yoo Gi-ah! Lihatlah ini!” Jae-oppa langsung menarik tanganku dan memperlihatkan apa yang sedang terpampang di iPadnya.
“MWO????!!! JINJJAAA?!?!?!?” aku syok sejenak, mati rasa.
“Yoo Gi-ah! Ini kenyataan!!! CHUKKAE, SAENG!!” oppa langsung memelukku girang.
“Oppa! Aku masih tidak percaya! Ani! Ne! Aku percaya sekarang. Ok. Aku akan ganti baju lalu kita harus merayakan ini, oppa!” aku melepas pelukannya dan langsung lari ke dressroom sampai aku tak melihat ternyata ada tumpahan susu di lantai yang membuatku terpeleset. Aku berteriak sebentar lalu segera bangkit dan melanjutkan perjalananku menuju dressroom (?)
Ya. Kabar gembira tadi adalah aku diterima di SMA favorit di kotaku. Betapa tidak? Untuk masuk menjadi siswa di sana bukan suatu hal yang mudah. Bayangkan saja, soal ujian masuk yang tempo hari aku kerjakan tarafnya sudah seperti taraf olimpiade tingkat nasional. Beruntung sehari sebelumnya aku lembur mencari mengumpulkan dan mengerjakan soal-soal yang kudapat dari berbagai situs di internet. Oh iya. Namaku Kim Yoo Gi. Aku adalah anak kedua dari dua bersaudara. Jadi, bisa disimpulkan bahwa aku adalah anak terakhir. Aku punya seorang kakak laki-laki, Kim Jaejoong. Jarak usia kami cukup jauh. Usiaku sekarang masih 14 tahun sedangkan Jaejoong oppa sudah 22 tahun. Oppa baru saja lulus dari Universitas Tokyo dan sekarang sudah bekerja di perusahaan terbesar di Korea. Oppa sangat jenius. Dulu waktu ia baru duduk di semester 3 sudah ada 3 perusahaan besar yang menawarinya pekerjaan. IQnya juga tergolong tinggi. Dari kecil aku sudah tinggal bersamanya. 4 tahun yang lalu aku ikut oppa pindah ke Jepang karena oppa harus kuliah di Tokyo. Waktu itu aku baru mau masuk SMP. Dua bulan yang lalu setelah aku dinyatakan lulus dari SMP, aku dan Jaejoong oppa kembali lagi ke Korea karena oppa rindu dengan semua yang ada di sini. Aku sih ikut saja. Jelas sekali. Kalau tidak ikut dengan oppa, aku akan tinggal dimana dan dengan siapa? Bukankah aku ini anak kecil? Emm... Kalian pasti bertanya dimana orangtua kami? Hmm entahlah. Aku sendiri tidak terlalu memikirkan mereka. Karena aku pikir mereka juga tidak terlalu memikirkanku. Aku lebih nyaman hidup seperti ini bersama Jaejoong oppa. Mungkin karena dari kecil aku sudah tinggal bersamanya. Bahkan aku tak tahu dimana orangtuaku tinggal sekarang. Oppa lah yang tahu. Tapi aku benar-benar tidak ingin tahu. Aku juga tak tahu kenapa aku sebegini tidak pedulinya dengan orangtuaku. Mereka tidak pernah sama sekali menghubungiku, namun sesekali menanyakan kabarku kepada oppa. Yah, mereka masih sering mengontak Jaejoong oppa. Menanyakan kabar rumah, keuangan oppa, dan (kalau tidak lupa) kabarku. Aku dan Jaejoong oppa tinggal di apartemen yang cukup mewah peninggalan orangtua kami. Ah sudahlah. Yang penting aku sudah cukup bahagia hidup bersama Jaejoong oppa yang sangat menyayangiku.
“Oppa, aku sudah siap. Kajja!”
“Ne, kajja!” Oppa merangkulku. Kami menaiki mobil oppa yang rupanya sudah siap di depan apartemen.
“Oppa, kau tidak memberiku hadiah?”
“Mwo? Hadiah apa?”
“Aish~ oppa! Hadiah karena aku diterima di sekolah itu,” bibirku maju lima senti.
“Ya ya! Jangan manyun begitu. Ne, kau ingin oppa beri apa?”
“Hmm.. tidak mahal dan tidak sulit kok. Aku hanya ingin kalau aku sudah mulai masuk sekolah nanti kau mengizinkanku untuk berangkat sendiri naik bus kota atau kereta bawah tanah. Seperti anak-anak sekolah normal lainnya.”
“Ya! Kalau itu aku tidak bisa, saeng,” jawab oppa mengalihkan pandangannya ke jalan dan sibuk menyetir.
“Wae? Kenapa oppa? Aku ini kan sudah bukan anak kecil lagi. Oppa, kapan kau akan membiarkanku tumbuh bebas? Apakah tidak cukup selama ini aku sudah selalu patuh padamu walaupun aku selalu jadi bahan ejekan chingudeulku di sekolah? Oppa, aku sudah SMA. Percayalah aku akan bisa menjaga diriku sendiri. Kau juga tahu kalau akau bukan anak yang penakut dan cengeng. Jebal oppa,’ rengekku menarik-narik lengan bajunya.
Oppa mendesah pelan. Memang. Selama ini aku selalu pergi dan pulang sekolah bersama oppa. Aku tahu oppamemang khawatir. Tapi aku juga ingin sesekali merasakan kebebasan.
“Ya! Oppa, what if we make a deal?”
“What’s that?”
“Aku akan mencobanya satu bulan pertama. Kau boleh mengantarku sampai halte atau stasiun bawah tanah. Pulangnya aku akan menghubungimu ketika aku sampai di halte atau stasiun. Kau kan tetap bisa menjemputku. Setelah kau percaya bahwa aku bisa, kau bisa mempertimbangkannya lagi. Bagaimana?”
“hmm”
“jebal oppa, yang ikhlas dong!”
“NE!” oppa berteriak tepat di telingaku yang membuatku spontan menutupnya.
Tiba-tiba..............
“Aaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrggggggggggggggghhhhhhhhhhhhhhh...............!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
Jaejoong oppa segera menepikan mobil dan kami berdua turun menghampiri namja yang hampir kami  tabrak tadi.
“Ya! Kau tidak apa-apa?” tanya oppa padanya.
“Ne, gwenchanayo,” namja itu langsung berlari dan menghilang.
Aneh sekali namja itu. Padahal kami ingin menolongnya. Dan sepertinya... ah tidak tidak. Aku menatap Jaejoong oppa yang ternyata sedari tadi masih memandangi namja itu. Pandangannya benar-benar tajam dan matanya mengikuti arah namja itu berlari hingga namja itu menghilang, aku pikir sepertinya ia mengenal namja itu.
“Oppa? Oppa?”
Jaejoong oppa tidak menjawab. Pandangannya masih saja tertuju ke arah namja itu menghilang.
“Ya! Oppa!” aku sedikit mengagetkannya.
“Eh? Wae?” sontak oppa kaget.
“Oppa mengenal namja itu?” tanyaku penasaran.
“Ah ani ani. Kajja kita lanjutkan perjalanan saja,” perintah oppa sambil merangkulku kembali naik mobil.
Oppa menyalakan mesin mobil. Ia kembali termenung.
“Oppa? Wae? Kau sakit?”
“Aniya...”
“Kalau oppa sakit, kita pulang saja oppa. Mungkin kau kelelahan setelah semalam kerja lembur.”
“Kau tidak apa-apa kalau kita pulang? Lalu bagaimana dengan...”
“Ya, oppa. Kesehatanmu lebih penting. Gwenchanayo. Kita pulang saja.” Aku tersenyum padanya.
“Arrasseo. Bagaimana kalau kita makan dulu?”
“Tidak usah oppa. Kita beli bahan makanan saja. Nanti biar aku yang memasakkannya untukmu.”
“Baiklah, kita pulang.”
Akhirnya kami memutuskan untuk menunda rencana hari ini. Tidak masalah buatku karena kesehatan Jaejoong oppa jauh lebih penting. Kami mampir di sebuah minimarket kecil. Aku turun dan segera masuk untuk membeli makanan kaleng yang cepat saji dan beberapa kaleng soda.
“Oppa istirahatlah. Nanti aku bangunkan kalau makanan sudah siap.”
“Ne. Jangan nyalakan api terlalu besar!”
“Ne.”
Oppa tidur di sofa ruang keluarga, sementara aku menyiapkan makanan untuknya. Yah~ aku memang mahir memasak. Kalau oppa pulang telat atau sakit, aku yang menggantikannya mengurus rumah. Benar-benar calon ibu yang baik, bukan? Setengah jam kemudian aku sudah selesai memasak. Aku berniat membangunkan Jaejoong oppa, namun kuurungkan niatku ketika aku melihatnya tengah pulas tertidur. Aku tidak berani mengganggu tidur manisnya. Sangat jarang oppa bisa tidur sepulas ini. Akhirnya kuputuskan untuk makan sendirian. Setelah makan aku meletakkan sisa makanan di kulkas.
Aku membuka laptopku. Mengecek e-mail. Tapi seperti biasanya, nihil. Tidak ada pesan baru yang masuk. Lalu kuputuskan untuk melanjutkan menulis novel terbaruku sambil memutar lagu-lagu favoritku.

--~~~--
“Kau kembali?”
“Aniya. Aku diusir.”
“Berapa lama?”
“5 tahun. Sejak tahun lalu.”
“Waeyo?”
“Aku berulah lagi.”
“Wae?”
“Aish~ aku sudah tidak tahan, Sunbaenim. Aku ingin...”
“Ne ne. Aku mengerti maksudmu. Tapi apa tujuanmu sebenarnya?”
“Itu... Aku tidak bisa mengatakannya padamu. Tapi aku yakin suatu saat kau pasti mengerti.”

--~~~--


-to be continued-

Senin, 23 Januari 2012

Reminiscene - Super Junior K.R.Y


Romanization

boiji anh-ni naye dwiie sumeoseo barameul pihae jameul ja-go it-janha
ttatteuthan haessal naeryeo-omyeon kkael-kkeoya jo-geumman gidaryeo

kyeoulomyeoneun uri du-riseo hangsang wah-sseot-deon badatka
shirin baramkwah hayan padoneun yejeon geudaero yeot-jiman
naye gyeoteseo jaejal-keorideon neoye hae-malgdeon geumoseub
ijen chajeul su eopt-ke dweheosseo

amudo eom-neun gyeoulye badatka neomuna seulpeoboinda-go
uri-ga pada gyeoteseo chinguga dweh-ja-go
nae deunge sumeo barameul pihal ttae ni cha-geun gidoreul deu-reot-ji
eonjena neoye gyeote uri hangsang hamkke hae talla-go

keochin pado-ga nae-ge mu-reot-ji
waeh honjaman on geonya-go neon eodi-l ka-nnya-go

boiji anh-ni naye dwiie sumeoseo barameul pihae jameul ja-go it-janha
ttatteuthan haessal naeryeo-omyeon kkael-kkeoya jo-geumman gidaryeo
tashineun neoreul bol su eopseul keoraneun yaegireul chama hal sun eop-seosseo
hajiman nado mollae heu-llin nun-mul deul-gin geoya

keunyeol jeoldaero chajeul su eopt-da-go
nareul seuchyeo-gat-deon barami marhae-nnabwah
eodi-l-kado keunyeo moseub bol suga eopt-da-go
nae-ge marhae-nnabwah eodi-l-ka-nnya-go ma-reul hara-go
jakkuman jaechokhadeon bada-ga kyeol-kugen nacheoreom nun-mu-ri dwehkoya marasseo

hayahke naerin badaye nun-mu-llo ni moseummandeu-reo
keu gyeoteseo nuwo ne ireumeul bu-lleobwah-sseo hokshi neo bol-kkabwah

no-gabeoril-kka keokjeon-gi dwaeh-nnabwah haessa-reul karin gureum tteonajiranh-janha

*neo-yeom-neun bada nun-mu-lloman sal-ket-ji geochi-reun pado nareul won-mang-hamyeonseo
neo eobshi honja chajaoji malla-go neol deryeo-ora-go

ni moseub bol su eopt-da haedo nan ara
naebo-re daheun hayan hambannun chokchokhan neoye ibmajchumkwah nun-mu-riraneun geol

* repeat

English Translation

Can’t you see – she is behind me
Avoiding the wind and fast asleep
When the warm sunlight falls, she will wake, just wait a little bit

When winter came, we always went to the seaside
The cold wind and the white waves are the same as before but
Your bright and cheery nature that chattered next to me
Is now nowhere to be found

You said that the winter sea, that had no visitors, looked so sad
And said that we should stay with it and be the sea’s friend
When you hid behind me to avoid the wind, I heard your small prayer
Asking for us to always be together by your side

The rough waves asked me
Why did I come alone and where you were

Can’t you see – she is behind me
Avoiding the wind and fast asleep
When the warm sunlight falls, she will wake, just wait a little bit
I couldn’t bear to say that I can’t ever see you again
But without knowing, my shedding tears have been caught

Music Song Lyrics @ www.liriklagulyrics.com
I guess the passing wind told me that I can’t ever find her again
No matter where I go, I can’t find her
I guess the ocean spoke to me and asked me where she went
The ocean kept asking and eventually, it became tears like me

With the white tears that the ocean sent, I made your image
I lay by it and called out your name, in case you see

I guess the clouds were worried that it would melt -
The clouds covering the sun aren’t leaving

* An ocean without you will live just as tears
The rough waves, also despising me
Telling me not to come without you, tell me to bring you there

Even if I say I can’t see you, I know
The white snowflakes on my cheek,
Are actually your wet kiss and tears

* repeat